Home » » Dokter Sering Salah Memprediksi Penurunan Berat Badan Pasien

Dokter Sering Salah Memprediksi Penurunan Berat Badan Pasien

Written By Dino Hadi Prawira on Thursday, February 23, 2012 | Thursday, February 23, 2012

Jakarta, Pasien yang ingin menurunkan berat badan sebaiknya jangan terlalu mempercayai prediksi dokter. Bukan karena mereka berbohong, tapi karena para dokter ini seringkali terlalu optimis dan keliru memperkirakan pasiennya dapat menerapkan gaya hidup sehat.

Dalam sebuah penelitian yang dilansir LiveScience, Kamis (23/2/2012), dokter memperkirakan sekitar 55% pasien akan mengikuti rekomendasinya untuk menurunkan berat badan, makan sehat atau lebih banyak berolahraga.

Tapi tiga bulan kemudian, hanya 28% pasien yang berhasil menurunkan berat badannya minimal 1 kg, hanya 34% pasien yang lebih banyak mengkonsumsi serat dan mengurangi lemak, dan 6% yang mempraktikkan berjalan cepat satu jam lebih setiap minggu.

Seperti laporan yang dimuat dalam jurnal Family Practice, para peneliti membuat rekaman percakapan antara 40 orang dokter dan 461 pasien yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Para dokter dan pasien tahu bahwa percakapannya direkam, tetapi hanya diberitahu bahwa penelitian ditujukan untuk melihat bagaimana cara dokter untuk mencegah penyakit pada pasiennya. Setiap selesai kunjungan, dokter diberi pertanyaan seperti: Bagaimana kemungkinan pasien akan mengikuti rekomendasinya?

Ketika melihat pasien yang diperkirakan akan membaik, sebagian prediksi dokter ternyata salah. Hanya 16% yang diprediksi bisa menurunkan berat badan benar-benar berkurang berat badannya tiga bulan ke depan.

Di antara yang diprediksi bakal mengikuti rekomendasi makan sehat, hanya 19% yang benar-benar memperbaiki kebiasaan makannya. Dan hanya 4% pasien yang diduga akan lebih banyak berolahraga yang benar-benar mempraktikkannya.

Namun para dokter lebih akurat dalam memprediksi pasien mana yang tidak membaik kondisinya. Harapan dokter akan kemampuan pasien untuk berubah sangat penting. Dokter yang kurang memiliki harapan dapat menyebabkan pasien kurang termotivasi untuk meningkatkan kebiasaan sehatnya.

"Pasien mungkin merasa lebih percaya diri dapat menurunkan berat badan ketika dokter percaya bahwa mereka akan berubah. Namun, optimisme ini juga bisa membuat dokter terlalu melebihkan efek rekomendasinya dan bisa membuat dokter kurang menerima teknik untuk mempengaruhi pasien ketika konseling," kata peneliti.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Please comment and your comments are very useful for the development of this blog. Do not forget to comment ethics, and do not waste time trying to spam. Thank You!