Latest Post

Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Bahasa Inggris Cas..Cis..Cus? Siapa Takut...

Written By Unknown on Wednesday, June 27, 2012 | Wednesday, June 27, 2012

EF Englishtown
Pembelajaran Bahasa Inggris saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dibandingkan beberapa tahun lalu.

Sekarang ini pengajaran Bahasa Inggris lebih diarahkan kepada praktik langsung dengan sedikit penekanan kepada hafalan rumus-rumus grammar, sehingga grammar bukan lagi sesuatu yang menakutkan bagi para pembelajar Bahasa Inggris.

Selain itu, para pembelajar juga membutuhkan sistem pembelajaran yang waktu belajarnya bisa disesuaikan dengan jadwal mereka sendiri.

EF Englishtown
merupakan terobosan baru dalam sistem pengajaran bahasa Inggris di Indonesia. Menggabungkan antara kecanggihan teknologi modern dengan sistem pembelajaran bahasa terkini, EF Englishtown menawarkan solusi praktis bagi mereka yang tak punya banyak waktu luang, tapi begitu berhasrat mempelajari bahasa Inggris.

EF Englishtown adalah kursus bahasa Inggris online yang dirancang bagi para penutur bahasa Inggris pemula sampai tingkat hampir lancar. EF Englishtown juga dirancang secara khusus untuk membantu memaksimalkan kemampuan bahasa Inggris pembelajar sesuai dengan tingkatan masing-masing.

Cukup login, seorang pembelajar bisa menikmati cara belajar yang amat menyenangkan dengan fitur-fitur tambahan yang lengkap.

Inti dari sistem belajar yang ditawarkan EF Englishtown adalah belajar bahasa Inggris tanpa banyak ribet dalam waktu sesingkat mungkin.

Karena itulah EF Englishtown menyediakan pengajar-pengajar native speaker yang berpengalaman dan sangat mumpuni. Merekalah yang akan membantu pembelajar meningkatkan kualitas bahasa Inggrisnya dengan metode pembelajaran modern yang berbasiskan praktik, bukannya dengan metode lama yang memaksa pembelajar menghafal rumus-rumus grammar yang menyesakkan.

Tapi bukan berarti grammar dikesampingkan sama sekali. Sistem pembelajaran dalam EF Englishtown dirancang sedemikian rupa sehingga para pembelajar diajak  menerapkan grammar dan vocabulary langsung dalam konteksnya secara natural, melalui video ilustratif dan interaktif, bukan melulu dengan cara menghafal atau mengerjakan soal.

Kunjungi facebook fanpages Englishtown di sini http://www.facebook.com/EFEnglishtownIndonesia like and add untuk mendapat info terbaru tentang EF Englishtown atau langsung visit websitewww.englishtown.co.id dan bisa menghubungi langsung Hotline EF Englishtown di 021 – 500 003. (WEBTORIAL)

Buku dengan Konten Dewasa Segera Ditarik dari Sekolah

Written By Unknown on Tuesday, June 12, 2012 | Tuesday, June 12, 2012

Penemuan buku pengayaan di perpustakaan sekolah dasar dengan muatan konten tak sesuai umur harus ditindaklanjuti serius. Selain seluruh buku itu harus ditarik dari perpustakaan sekolah, harus dibentuk tim khusus untuk menyaring buku yang bakal menjadi koleksi sekolah.

”Pasti harus diusut pihak yang membuat buku seperti itu ada di perpustakaan,” ungkap Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, di Bandung,
Jumat lalu ditemukan muatan tidak pantas pada buku pengayaan di beberapa SD di Bandung. Beberapa bagian isi buku seharusnya baru layak dibaca orang berusia 18 tahun ke atas, karena memuat tulisan vulgar mengenai kekerasan dan perilaku seks bebas, serta kata umpatan.

Sejumlah guru menduga buku itu diberikan melalui dana alokasi khusus (DAK) Provinsi Jabar. Tetapi, hal itu dibantah Heryawan. Pemerintah Provinsi Jabar tak memberikan bantuan buku melalui DAK. Yang melakukan pemerintah kota/kabupaten.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jabar Wahyudin Zarkasiy mengatakan, kewajiban menyaring buku yang akan diberikan pemerintah pusat ada pada Pusat Perbukuan dan Kurikulum. Sekolah yang menerima juga harus menyaring buku agar tidak ada kejadian serupa terulang lagi.

Diakui Wahyudin, pada 2009 dan 2010, Pemprov Jabar pernah mengucurkan bantuan buku paket pelajaran sebanyak 28 juta eksemplar. Bantuan dalam bentuk novel untuk pengayaan itu hasil karya tulis Rancage.

Pemprov Jabar meluncurkan bantuan pembangunan ruang kelas baru sebanyak 4.268 unit untuk sekolah swasta di Jabar. Bantuan itu, lanjut Heryawan, akan dikelola mandiri atau dibangun tanpa tender dahulu. (eld)

Belajar di Amerika dengan Beasiswa Penuh Fulbright, Mau ?

Written By Unknown on Tuesday, May 8, 2012 | Tuesday, May 08, 2012

Pemerintah Amerika Serikat mensponsori program beasiswa pertukaran pelajar internasional bernama Fulbright. Program ini diciptakan untuk meningkatkan pemahaman antara pelajar AS dan pelajar dari negara lainnya.

“Fulbright program selalu populer setiap tahunnya. Indonesia merupakan salah satu program terbesar di dunia,” ujar Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot Marciel, Senin (7/5) petang.

Jumlah peminat beasiswa Fulbright setiap tahunnya selalu meningkat. “Para pelamar semakin berkualitas. Pendanaan pun ditingkatkan,” ujar Scot dalam acara Gala Dinner perayaan 60 tahun Fulbright Program dan 20 tahun kerjasama beasiswa dengan Indonesia.

Ia mengaku senang melihat pelajar Indonesia yang tertarik untuk belajar di AS. Pelamar dari Indonesia pun selalu meningkat setiap tahunnya walaupun sempat turun drastis sejak 9/11. “Para alumni membantu menyebarkan penjelasan bahwa saat ini tidak sulit untuk masuk AS,” ujar Scot.

Ketua Dewan Beasiswa Luar Negeri Fulbright, Tom Healy, berharap jumlah pelamar dari Indonesia semakin bertambah. “Kami sangat senang berbagi ilmu dengan pelajar dari Indonesia,” ujar Tom yang juga pujangga dan penulis Amerika.

Ia menjelaskan program Fulbright ini dibangun atas dasar kepercayaan. Para pelajar yang mengikuti program ini juga akan mempelajari kebudayaan dan bertukar pikiran melalui diskusi dengan pelajar dari negara lainya. “Tema diskusi tahun ini adalah Pemilu dan Demokrasi Amerika karena Amerika sedang menjalani Pemilu,” ujar pria yang mengajar di New York University ini.

Ia menambahkan Fulbright tidak memiliki batasan kuota selama para pelamar memenuhi kriteria dan dana mecukupi. Fulbright pun menawarkan banyak program. “Fulbright adalah program beasiswa yang paling kompetitif dan bergengsi di dunia,” ujar dia.

Para pelajar yang mengikuti program beasiswa Fulbright ini akan didanai sepenuhnya. “Dengan Indonesia, pendanaannya menggunakan kerjasama antar pemerintah,” ujar Wakil Asisten Menlu AS untuk Program Akademik, Biro Pendidikan dan Kebudayaan, Meghann Curtis. Pengelola program Fulbright untuk Indonesia adalah American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF).

Saat ini program Fulbright diikuti oleh 160 negara. Indonesia adalah program paling besar di Asia Pasifik. “Indonesia juga program terbesar kelima di dunia,” ujar Curtis

Redaktur: Hafidz Muftisany
Reporter: Satya Festiani

Kemdikbud Ingin Cetak Generasi Emas

Written By Unknown on Monday, May 7, 2012 | Monday, May 07, 2012

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan fokus mencetak generasi emas. Wacana itu sekaligus menjadi tema pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini.

Itulah mengapa kita fokus pada kebangkitan generasi emas, karena ini pertama kalinya, dan harus kita manfaatkan.
-- Mohammad Nuh

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menjelaskan, dijadikannya kebangkitan generasi emas sebagai tema peringatan Hardiknas tahun ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, sejak 2010 sampai 2035 merupakan saat Indonesia mendapatkan bonus demografi, yakni populasi usia produktif paling besar sepanjang sejarah Indonesia berdiri.

"Itulah mengapa kita fokus pada kebangkitan generasi emas, karena ini pertama kalinya, dan harus kita manfaatkan," kata Nuh, sesaat setelah memperingati Hardiknas di Kemdikbud, Jakarta, (Rabu (2/5/2012).

Pada periode tersebut Indonesia harus melakukan investasi besar-besaran dalam bidang pengembangan sumber daya manusia sekaligus sebagai upaya menyambut 100 tahun Indonesia merdeka, pada 2045 mendatang. Selain melalui gerakan Paudnisasi, kata Nuh, Kemdikbud juga akan mendorong perluasan akses pendidikan di semua jenjang untuk membangkitkan generasi emas tersebut. Karena menurutnya, kualitas pendidikan yang baik dan merata merupakan kunci sukses membangkitkan generasi emas.

"Kita juga akan memperluas akses pendidikan mulai dari PAUD sampai pendidikan tinggi yang diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan," pungkasnya.

Pendidikan Berkualitas Masih Sekadar Harapan

Indonesia memiliki peluang untuk maju pada dua atau tiga dekade mendatang dengan adanya bonus demografi, yakni banyaknya penduduk usia produktif. Namun, potensi besar yang membutuhkan generasi muda terdidik itu menghadapi persoalan serius antara lain kualitas pendidikan yang masih tergolong rendah.

Persoalan ini mengemuka dalam seminar bertajuk ”Pendidikan Indonesia: Harapan dan Kenyataan” yang dilaksanakan SMA Kolese Gonzaga di Jakarta, Sabtu (5/5). Tampil sebagai pembicara, Direktur Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Totok Supriyanto, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef, Guru Besar Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Anita Lie, dan Guru Besar Universitas Sanata Dharma Paul Suparno.

Anita Lie mengatakan belum ada kesejajaran tujuan politis dengan tujuan pembangunan. ”Anggaran pendidikan besar, tetapi indikator pencapaian pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah,” ujar Anita Lie.

Mengutip data Bank Dunia, Anita Lie menyebutkan, rata-rata lama bersekolah di Indonesia masih 8,0 tahun untuk laki-laki dan 7,5 tahun untuk perempuan. ”Secara gamblang, data ini menunjukkan kegagalan program wajib belajar sembilan tahun yang telah ditetapkan pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Namun, dalam waktu dekat segera akan muncul isu populer wajib belajar 12 tahun. Ini bisa menguntungkan kepentingan politik pemerintah sekarang saja,” kata Anita Lie.

Totok Supriyanto, Direktur Pembinaan SMA Kemdikbud, mengatakan, persoalan pendidikan di negeri ini memang terus muncul meski berbagai upaya juga dilakukan pemerintah.

Paul Suparno menyoroti pendidikan nasional yang belum melaksanakan pendekatan holistik menjadikan manusia Indonesia yang utuh. ”Pendidikan karakter memang dicanangkan dan dijalankan, tetapi belum menjadi bagian dari seluruh pendidikan nasional kita,” ujar Paul.

Daoed Joesoef mengatakan, pendidikan nasional Indonesia mesti bisa berperan untuk membentuk warga bangsa. ”Sistem pendidikan nasional kita perlu menyadari anak didiknya adalah warga Indonesia, bukan anak suku yang lahir di salah satu daerah di Indonesia,” ujarnya. (ELN)
 
Sumber : Kompas